7 Hal yang Dialami Tubuh saat Berhenti Mengonsumsi Fast Food

7 Hal yang Dialami Tubuh saat Berhenti Mengonsumsi Fast Food

KicauQQ Lounge 7 Hal yang Dialami Tubuh saat Berhenti Mengonsumsi Fast Food

88kicauqq.info – Yang pasti, tubuhmu akan berterima kasih!

Di Indonesia, fast food atau makanan cepat saji sudah menjadi bagian untuk mengisi perut sehari-hari. Khususnya bagi anak sekolah, mahasiswa, pekerja kantoran, atau siapa pun yang ingin makan enak, praktis, cepat, dan bebas repot.

Walau bisa mengenyangkan, tetapi yang namanya makanan cepat saji bisa berdampak buruk pada kesehatan, khususnya bila dikonsumsi terlalu sering. Dari angka timbangan yang terus naik yang kemudian mengundang banyak penyakit. 

Namun, bagaimana jika sebaliknya, yaitu ‘puasa’ atau berhenti makan makanan cepat saji dalam waktu lama? Apa dampaknya bagi tubuh kita? Menarik untuk diketahui, yuk, simak pembahasannya di bawah ini.

7 Hal yang Dialami Tubuh saat Berhenti Mengonsumsi Fast Food

1. Risiko penyakit jantung bisa diminimalkan

Ternyata, mengonsumsi makanan cepat saji walaupun hanya dua kali seminggu saja secara rutin sudah bisa meningkatkan risiko kamu mengalami penyakit jantung. Ini diakibatkan tingginya kandungan lemak dan natrium yang ada pada makanan cepat saji pada umumnya.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Circulation milik American Heart Association (AHA), orang yang mengonsumsi makanan cepat saji secara rutin sekali seminggu mengalami peningkatan risiko meninggal dunia karena penyakit jantung koroner sebesar 20 persen. Akan naik jadi 50 persen jika rutin mengonsumsi fast food 2-3 kali seminggu. Bahkan, bisa naik lagi jadi 80 persen bila dikonsumsi lebih dari 4 kali dalam seminggu.

2. Menurunkan risiko diabetes

Seperti yang disebutkan sebelumnya, makanan cepat saji tinggi akan kandungan lemak, yang mana ini dapat menyebabkan resistansi insulin. Ini merupakan kondisi tubuh yang awalnya menerima insulin menjadi resistan (menolak atau tidak merespons) dan tubuh jadi tidak mampu menggunakan glukosa dari darah sebagai energi.

Karena tubuh tidak bisa menyerap gula dengan baik, maka terjadilah penumpukan gula dalam darah melebihi batas normal. Dari situ, terjadi pula penumpukan lemak, menyebabkan tubuh kelebihan berat badan atau obesitas, dan ketika berkembang inilah yang akhirnya bisa berujung pada diabetes tipe 2.

3. Daya ingat dan kemampuan belajar jadi meningkat

Salah satu jenis kandungan lemak yang terdapat pada makanan cepat saji adalah lemak trans, yang ternyata dapat menyusutkan otak, sehingga berpengaruh terhadap memori dan kemampuan berpikir otak.

Lemak trans umumnya terdapat pada makanan kemasan, makanan yang digoreng, makanan beku, makanan olahan, dan mentega atau margarin. Sementara itu, makanan yang bernutrisi tinggi, seperti yang mengandung omega-3, vitamin C, D, E, dan B, dapat meningkatkan kemampuan daya pikir.

Hal tersebut diteliti oleh Oregon Health & Science University, Amerika Serikat (AS), dan dipublikasikan oleh American Academy of Neurology. Studi tersebut melibatkan 104 partisipan dengan umur rata-rata 87 tahun yang memiliki risiko pada memori dan kemampuan berpikir.

4. Mendongkrak mood

Dari The SUN Project yang dilakukan di Spanyol dan dipublikasikan oleh Cambridge University Press, disimpulkan bahwa mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan olahan dapat meningkatkan risiko depresi.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Public Health Nutrition tersebut juga menunjukkan bahwa 51 persen konsumen penyuka fast food lebih mungkin mengalami depresi dibandingkan orang-orang yang jarang mengonsumsinya.

5. Lebih berenergi

Makanan cepat saji memang mengandung karbohidrat yang dapat memberikan energi. Namun, karbohidrat tersebut umumnya jenis karbohidrat sederhana, yang mana itu adalah sumber energi yang cepat sekali diolah dan dicerna tubuh, sehingga kadar glukosa cepat naik.

Ya, karbohidrat sederhana memang bisa membuat tubuh berenergi dengan cepat, tetapi ini cuma bisa bertahan selama beberapa jam saja. Setelahnya, tubuh akan kembali merasa kelaparan dan butuh energi dari makanan.

Beda halnya dengan karbohidrat kompleks. Walau butuh lebih lama untuk diolah dan dicerna menjadi glukosa, tetapi energi yang didapat tubuh diterima bertahap, membuat kamu tak mudah lemas. Kandungan yang dimiliki pun rendah lemak dengan vitamin dan serat yang cukup tinggi.

6. Badan ramping, perut buncit bisa menyusut

Gula yang terkandung dalam makanan cepat saji biasanya berjenis fruktosa yang dapat membuat otak tak terpicu mengirimkan sensor kepada tubuh. Oleh sebab itu, tak jarang hampir semua makanan cepat saji membuat para konsumennya ketagihan dan tak berhenti makan. Ini tentunya dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.

Juga tidak seperti glukosa, fruktosa tidak menyebabkan insulin terpicu untuk lepas dan memberi sinyal ke seluruh tubuh untuk mengambil gula dalam aliran darah. Faktor itulah yang membuat fruktosa tampak berperilaku seperti lemak di dalam tubuh dibandingkan karbohidrat.

Dengan demikian, gula yang baik adalah gula yang mempunyai kandungan kaya akan serat, vitamin, dan mineral. Semua itu tentunya terdapat pada sayur dan buah-buahan alami nan segar.

7. Menguatkan tulang

Banyak juga makanan cepat saji yang didominasi rasa asin, yang mana ini bikin pemakannya jadi mengonsumsi garam secara berlebih.

Menurut riset dari University of Alberta Faculty of Medicine & Dentistry, Kanada, ketika natrium (garam) masuk ke dalam tubuh dan membawa unsur kalsium bersamanya, itu bisa menciptakan risiko batu ginjal dan osteoporosis akibat menipisnya tulang karena kehilangan unsur kalsiumnya. Seram, kan?

Jadi, kalau mau kesehatan tulang terjaga, hindari makanan cepat saji, ya!

Dari penjelasan di atas, memang penting sekali untuk menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian kita. Tak apa kalau tak bisa langsung berhenti. Lakukan secara bertahap. Perbanyak konsumsi sayur dan buah segar, bawa bekal makanan sendiri, dan buat kebiasaan baru misalnya menyediakan camilan sehat (buah atau kacang-kacangan tanpa tambahan rasa atau garam). Kamu pasti bisa!

baca juga : Tingkatkan Asupan Protein, Ini 6 Penjelasan seputar Diet Astronot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *